Perkenalkan namaku Theodore Nott. Kau bisa memanggilku Theo,
sementara bayi yang ada dipelukanku ini adalah keponakanku, namanya Scor..
Scorpio? Scop? Scorpo? Pororo? Ah namanya susah sekali, aku tak bisa
mengingatnya.”Scor—scorpie? Ah namanya Scorpie,” sequel dari Scandal.
Scorpie, Come To Uncle.
Rated : T
Genre : Family, humor, Frendship.
Pair : Dramione, Theoscorp
Harry Potter Fanfic.
Disclamer : J.K Rowling
Author : Constantinest
Warning : Typo, OOC parah,dll.
Saya tidak mengambil keuntungan apapun dalam membuat fanfic ini.
Hope you like it :)
A/N : maaf sebelumnya, kemungkinan beberapa cerita seperti : How to be
Straight, Under Control, 99XO race di discontinued dan akan segera dihapus.
Terimakasih atas semuanya.
-XOXOXO-
“Draco apakah kau yakin menitipkannya kepada Theo? Kau tahu
bukan Theo itu pelupa akut? Mungkin saja dia bisa meninggalkan Scorpie
dimanapun dan kapanpun. Kalau sampai itu terjadi, aku benar-benar tidak akan
mengangapnya sebagai saudara!” seru Hermione, wanita itu duduk gusar di kursi
mobil. Sementara pria berambut pirang yang sedang menyetir itu hanya tersenyum
kecil.
“Tenanglah Hermione, aku tahu Theo pelupa. Tapi mana mungkin
dia melupakan keponakannya yang paling ia sayang? Itu tidak mungkin,” candanya.
“Tapi kau ingat! Theo bahkan tidak bisa mengingat namanya
dan selalu memangilnya dengan sebutan Baby?!” balas Hermione.
Lagi-lagi pria itu hanya tersenyum, “Kali ini aku yakin dia
tidak bakal lupa. Karena aku sudah memesankan pakaian bayi dengan ukiran nama
besar pada pakaiannya ‘Scorpie’ aku yakin dia tidak bakal lupa, karena Theo
akan meningatnya bukan?”
“Kurasa kau benar, tapi bagaimana jika Theo lupa bahwa itu
keponakannya dan menitipkan Scorpie pada polisi dan bilang bahwa itu anak
hilang? Bagaimana jika ada orang yang ingin mengadopsi Scorpie. Kau tahu bayi
itu sangat manis.” Lagi-lagi Hermione gusar, ia bergerak tidak nyaman dan
memencet tombol diteleponnya.
“Tenanglah dear,
hanya dia yang bisa kita minta tolong. Lagipula aku mana mungkin membatalkan
syutingnya. Harga kontraknya itu 1 milyar? Lagipula Tom bilang dia akan segera
mampir dan membantu Theo untuk mengurus Scorpie. Dia juga akan membawa Astoria?
Astoria sangat handal dalam mengasuh bayi bukan?” ucap Draco menenangkan
istrinya.
“Aku tahu, jika ada mereka setidaknya aku akan sedikit
tenang. Tapi ini baru jam berapa dan mereka datang jam 7 malam, masih 10 jam
lagi, aku bisa gila memikirkannya,”
“Kalau begitu kau bisa menghubungi Theo bukan?”
“Kau benar Draco, aku akan menghubunginya.” Ucap Hermione
menelpon Theodore.
[Halo]
[Theo, apa yang sedang kau lakukan?]
[Menonton kartun, ada apa?]
[Bagaimana dengan Scorpie?]
[Scorpie? Dia sedang tidur disampingku? Tenanglah Hermione
aku mengenakan Headset ditelinganya yang kecil itu, jadi dia tak bisa mendengar
apapun]
[Baguslah, aku percaya kepadamu, Theo. Pertama kau sudah
tahu bukan semuanya?]
[Ya Hermione, pertama aku tidak boleh menaruhnya
sembarangan, kedua aku tidak akan meninggalkannya dan selalu bersamanya, yang
ketiga aku tidak akan membawanya kekantor polisi untuk diadopsi yang keempat
aku tidak akan menjualnya. Apakah itu sudah membuatmu yakin?]
[Baguslah, Theo. Aku mengandalkanmu]
[Baiklah Hermione, aku akan melanjutkan kartunku.
Ngomong-ngomong apakah dia bisa merangkak atau berjalan mungkin?]
[Theo umurnya baru enam bulan, dia sudah bisa merangkak dan
bisa duduk tanpa dibantu]
[Baguslah kalau begitu, sekarang nikmatilah liburanmu,
Hermione. Pai-pai]
“Theo! Kenapa dia mematikan ponselnya?” ucap Hermione,
menatap Draco.
“Ya mungkin karena dia tak akan menggangu kita, tenanglah
Hermione.” Draco masih menyetir, walaupun sesekali ia melihat wajah istrinya.
“Bagaimana kau bisa setenang itu? Kau tak khawatir kepada
anakmu sendiri?”
“Hermione aku tahu Theo seperti apa. Karena itu dia bisa
menjadi menejerku, dear. Sudahlah
lupakan, aku percaya kepada dia,”
“Ngomong-ngomong, kenapa kau menambahkan peraturan bahwa
jangan menjual Scorpie? Apakah dia akan menjualnya?”
“Tidak, hanya saja Theo pernah bertanya apakah menjual bayi
itu mahal?”
“Apa jawabanmu?”
“Kubilang kau bisa mendaftarkan harga mahal terutama kalau
bayimu bagus.”
“Draco, apakah Theo pernah menjual barangmu?”
“Dia pernah menjual motorku, gara-gara dia bilang dia akan
meminjamnya, kurasa dia lupa dan menjualnya, haha,” tawa Draco melihat istrinya
yang menatapnya dengan wajah ingin membunuhnya.
“Itu tidak lucu!” seru Hermione ketus.
“Tenanglah Hermione, Theo tak akan menjualnya aku yakin
itu,”
“Kuharap kau benar, Draco.” Seru Hermione ketus, melipat
kedua tangannya didada.
“Tenanglah, lagipula
kita bisa membuat Scorpie yang banyak, Hermione. Aku tak keberatan,”
“Hn, kau bisa bicara seperti itu karena tidak tahu bagaimana
caranya mengandung. Lupakan dan lanjutkan menyetirmu!”
“Baiklah, dear,”
-XOXOXO-
“Perkenalkan namaku Theodore Nott, sementara bayi yang ada
digendonganku ini adalah keponakanku, namanya Scor.. Scorpio? Scop? Scorpo?
Pororo? Ah namanya susah sekali, aku tak bisa mengingatnya. Scor—scorpie? Ah
namanya Scorpie.
“Saya duduk disini, karena saya akan menjawab semua
pertanyaan yang kira-kira muncul. Kalian tahu bukan ini sequel dari Scandal
yang notabe berakhir dengan Sad ending?”
“Akan kuberitahu bahwa Draco bukanlah pria yang mudah
melepaskan semua yang ia inginkan. Karena itu juga Draco mengejar Hermione
sampai wanita itu putus asa dan menerima perasaan Draco, oh sinetron!” Theo
tertawa sendiri sementara Scorpius menatapnya dengan tatapan yang sulit
diartikan.
“Kenapa Scorpie? Kau suka melihat wajah tampan pamanmu ini
ya? Kau menatapku seolah aku ini barang antik, kau mengemaskan,” ucap Theo
kemudian mencium pipi tembem Scorpie.
“Nah yang kedua, kalian pasti penasaran dengan wanita yang
tidur bersama Tom? Sekarang wanita itu sudah menikah dengannya, ada juga wanita
yang mau menikah dengan pria gila peraturan seperti itu? Namanya Astoria,
wanita cantik dan membuatku iri. Wanita cantik itu ternyata bekerja untuk
memfoto Draco dan sama dengan Tom, maka sejak saat itu mereka mulai berkencan
dan menikah, hahaha.” Theo menatap Scorpie yang mulai berceloteh kecil.
“He..he..heee,”
“Kenapa Scorpie? Kau mau berbicara?” tanya Theo, mengendong
bayi itu dan mulai bermain kecil dengannya.
“Nah selanjutnya, aku. Kini aku masih menjadi menejer Draco.
Tetapi sedikit dikurangi karena Hermione kini juga sebagai istri dan menejer
sekaligus. Oh aku berbahagia setidaknya Hermione bisa mengingatkanku. Aku juga
menjadi penjaga bayi, walaupun ini hari pertamaku. Yosh doakan aku sukses,”
ucap Theo berdiri dari kursinya.
“Oh iya aku lupa, aku juga sudah berkencan dengan Ginny,
sahabat Hermione yang manis itu.”
“Sekian perkenalannya, kalau begitu aku akan menghabiskan
waktuku menjadi paman sekaligus babysitter
yang baik untuk, Pororo,” ucap Theo, mencium baby Scorpie. “Namamu Pororo
bukan?”
Scorpius hanya menepukkan kedua tangannya sekaligus
tersenyum kecil, “benarkan namamu Jared,”
“Nah Baby Jared, aku akan menganti bajumu karena sudah
kotor. Eh ada tulisannya, Scor—Scorpie? Namamu Scorpie ya? Ah bagaimana aku
bisa lupa!” ucap Theo menaruh bayi Scorpius di atas Sofa.
“Dia tak akan bisa kemana-mana bukan? Umurnya baru tiga
bulan bukan? Tiga? Apa empat ya? Hermione tadi memberitahuku tapi berapa ya? Ah
apa yang bisa dilakukan oleh bayi kecil?” ucap Theo masuk kedalam kamarnya.
Theodore yang semula ingin mengambil baju bayi, bingung
sendiri apa yang ingin dilakukannya. Karena itu juga, Theo memilih untuk
berbaring dikasurnya sambil menonton acara televisi.
“Sepertinya ada sesuatu? Apa ya?”
Sementara itu dengan Scorpius.
Bayi dengan rambut pirang bermata kelabu yang sangat mirip
dengan ayahnya ini sedang menjadi Trending topik mengingat Draco yang suka
menggembar-gemborkan bayinya. Ditambah lagi bayi yang mewarisi wajah manis
milik Hermione dan tampan seperti Draco. Bahkan diusianya yang masih kecil itu
dia sudah memiliki beberapa pengemar.
“Bu? Abu? Buhbubh,” ucapnya kecil, mengoyangkan mainannya
yang ada ditangannya. Tanpa sengaja mainan itu terlempar dan membuat televisi
menyala. Menampilkan beberapa film kartun yang membuat baby Scorpie mulai
mengoyang-goyangkan tubuhnya.
“Sepertinya aku lupa sesuatu, tapi apa ya?” tanya Theo yang
sedang asyik menonton acara sepak bola favoritnya.
“Ayo anak-anak angkat kedua tangan kalian, lalu goyangkan,”
ucap seorang pembawa acara bersamaan dengan suara musik anak kecil.
“aaaaauuu, dah dah,” ucap Scorpius mulai mengoyangkan
tubuhnya.
“Seingatku aku tidak menyetel televisi depan?” ucap Theo,
berjalan keluar kamarnya.
Theodore yang mengambil remot tv, mematikan televisi.
“Buh..buh..buh,” sepertinya bayi Scorpie tidak suka dengan pelakuan Theo mulai
protes.
“Ba—bayi? Siapa yang tega menaruh bayi disini? Tega sekali
ibunya membuangmu disofa? Sofa? Kurasa tidak ada yang masuk?” ucap Theo
mengendong bayi Scorpius. “Lihat pintunya tertutup? Apa jangan-jangan bayi ini
ilusi? Jika aku menutup mataku dan membukanya bayi ini akan hilang? Akan
kucoba,” ucap Theo menutup dan kemudian membuka matanya berulang-ulang.
“Bayi ini tidak hilang? Apa jangan-jangan ini nyata?” tanya
Theo menatap bayi Scorpius. Bayi Scorpius hanya tertawa kemudian memukul Theo
dengan tangannya.
“Hei, siapa yang mengajarkanmu untuk memukulku? Kasihan
sekali kau, akan kurawat dirimu. Kebetulan dulu aku pernah merawat anak anjing
chihuahua. Karena kecil sekali aku menaruhnya didalam kantong bajuku, lalu
tanpa sadar aku memasukannya kedalam mesin cuci, selanjutnya— Cerita yang
tragis,” ucap Theo meratap.
“Buh..buh..au,” ucap Scorpius menunjuk televisi.
“Oh kau mau menonton acara tadi ya?” ucap Theo menaruh baby
Scorpius dan menyetel televisi.
“Eh, ada tas bayi. Ternyata ibunya cukup baik memberikanku
tas bayi,” ucap Theo mengambil secarik surat yang ada diatasnya.
Dear Theodore.
Aku yakin kau pasti
lupa kalau Scorpie adalah keponakanmu dan kau pasti mengangap bahwa Scorpius
adalah anak yang dibuang bukan? Masukan surat ini kalau kau sudah membacanya,
sifat pelupamu ini membuatku khawatir.
Jangan lupa susunya ada di kulkas, kau hanya tinggal menghangatkannya
saja, tapi jangan terlalu panas coba dengan kulitmu.
Hermione Malfoy.
“Scorpie, kenapa kau tak memberitahuku kalau kau
keponakanku?” tanya Theo menatap bayi Scorpius. Scorpius yang mendengarnya
hanya terkejut kemudian merangkak mendekat kearah tas.
“Aku lupa kau masih bayi,” ucap Theo mengelengkan kepalanya.
“Aaauhh, abbbuh,” ucap baby Scorpie mengeluarkan botol
kosong. Bayi itu mengoyangkannya lalu melemparnya mengenai wajah Theo.
“Hey, sakit tahu!” seru Theo, sementara Scorpius tertawa
melihat pamannya yang menjerit berlebihan. Ia mulai melemparnya lagi dengan
barang-barang yang ia temui didalam tasnya.
Mulai dari popok, botol kosong, bedak.
“Hei, jangan melemparku. Kau pikir ini lucu?!” bentak Theo,
menggengam tangan Scorpius.
Melihat tangannya yang tidak bisa bergerak, perlahan ia
mulai menangis. Maklum, Scopius adalah anak kesayangan Hermione, jarang
dimarahi dan terkadang malah dimanja. Walaupun kadang-kadang Hermione tegas
juga.
“Huh..hu..huee,” Scorpius mulai menangis.
“Eh, jangan menangis? Aduh, Scorpie tenanglah,” ucap Theo
melepaskan tangan Scorpius dan mengendongnya, “ayo bayi manis, tenanglah.
Jangan menangis,” ucap Theo mengoyang-goyangkan Scorpius.
“Scorpie, kau bisa membuatku gila jika terus menangis. Ayo
diamlah,”
Namun Scorpius menangis semakin keras, “Scorpie, jangan
menangis? Aduh kepalaku pusing,” ucap Theo mengambil mainan Scorpius dan
mengoyangkanya.
“Scorpie, kau membuatku gila.” Ucap Theo, mengoyangkan
Scopius yang berada digendongannya.
“Lihat, mainan ini bisa berbunyi bukan? Ayo pegang,” ucap
Theo memberikan Scorpius maiannya. Scorpius yang tertarikpun diam dan mulai
mengoyangkan mainan itu.
“Baguslah, sekarang duduk disini, Uncle Theo akan membuatkanmu
susu,” ucap Theo, memberikan bantal disekitar baby Scorpius.
“Susah juga merawat bayi,” ucap Theo pergi menuju dapur.
“Susu-susu bayi, dimana kau?” ucap Theo membongkar lemari
makanannya, tetapi tidak menemukan satu dos susu bayi.
“Tidak ada? Apakah Hermione lupa menaruhnya?” tanya Theo,
pria rambut hitam itu berpikir sebentar.
“Apakah aku harus mengeluarkannya?” tanya Theo, “Disini?
Dari dadaku?” tanya Theo memengang dadanya.
“Bagaimana caranya?” tanya Theo lagi, melepaskan kaos yang
dipakainya. “Entah mengapa aku malu melakukannya, haha.” Ucap Theo.
“Aku memerlukan makanan dulu,” ucap Theo membuka kulkas.
Dipintu kulkas terdapat notes kecil yang dituliskan
Hermione.
Dear Theodore.
Aku yakin kau pasti
lupa, dan membongkar seluruh isi lemari. Bahkan kemungkinan kau akan? Lupakan.
Susunya ada didalam kulkas, kau bisa menghangatkannya. Ingat jangan terlalu
panas, cobalah dikulitmu, tetapi jangan juga terlalu dingin.
Hermione
“Entah mengapa aku merasa Hermione seperti paranormal. Dia
bisa mengetahui semuanya? Draco menikahi seorang wanita yang menyeramkan,” ucap
Theo. Mengambil botol susu dan mulai menghangatkannya.
Theo sesekali melihat baby Sciorpius yang sedang menonton
televisi sambil menggoyangkan mainannya.
“Manis sekali, aku jadi ingin satu,” pikirnya. Theo
mengambil susu itu, dan mencobanya.
“Ueek, panas sekali!” jeritnya menjulurkan lidahnya. Theo
memasukan botol susu itu kedalam air dingin dan menunggu lagi.
“Nah ini baru pas, tidak seberapa dingin maupun panas.
Rasanya boleh juga. Ngomong- ngomong kenapa aku mengambil botol susu? Apakah
aku meminum dari dot sekarang?” tanya Theo kepada dirinya, dan meminum susu
Scorpius dengan lahapnya.
Theo keasikan meminum susu Scorpius dan bayi Scorpius
melihat Theo yang sedang meminum susunya. Semula Scorpius tekejut, kemudian
mulai menangis. Tidak suka jika susunya diminum orang lain.
“Ah, aku lupa Scorpius. Ini susu untukmu, aku sudah
mencobanya, tanpa racun,” candanya. Namun susu itu tinggal sedikit dan membuat
bayi Scorpius jengkel.
“Uh..uh..uh, aaaa.” Ucapnya melemparkan botol susu itu
kesembarang arah. Ia juga mengentakan kaki dan tangannya yang kecil dan mulai
menangis.
“Tenanglah, iya—iya uncle
akan memberikan yang baru.”
Cukup lama Theo membuat susu untuk Scorpius sampai-sampai
bayi itu juga sudah berhenti menangis.
“Ayo, ayo minum yang banyak,” ucap Theo memengang botol
susu, sementara Scorpius meminumnya dengan lahap.
Scorpius meminum susu itu sampai tertidur,”akhirnya tidur
juga. Pantas Draco lebih suka main kerumahku,”
“Melelahkan juga,” ucap Theo dan mulai tertidur disofa.
-XOXOXO-
“Ayo cepat Draco, aku khawatir dengan Scorpius. Dan apa juga
yang mereka lakukan berdua?” ucap Hermione melepaskan sepatunya.
“Iya, Hermione. Tenanglah,”
Hermione segera masuk kedalam apartemen Theo, begitu menekan
tombol rumah pria itu. Ia melihat Theo sedang tidur memeluk bayi Scorpius.
Mereka pulang lebih cepat dari jadwal semula, karena
Hermione meminta untuk segera pulang. Mengingat Hermione sangat khawatir dengan
anaknya.
“Lihat bukan? Theo tidak menjualnya,”
“Kau benar, tapi lihat rumah ini? Popok-popok berserakan
dimana-mana begitu juga dengan botol kosong?”
“Lihat Scorpie tersenyum, kurasa ia suka tinggal dengan
pamannya.” Canda Draco.
“Kau benar, mungkin aku terlalu paranoid terhadap Theo,”
ucapnya mengulus pipi Scorpius.
“Um, Hermione. Kurasa sebentar lagi kita harus menitipkan
baby Scorpius kepada—“
“Tom, selanjutnya Tom yang akan menjaganya,”
“Kurasa mereka berdua harus menjaganya, kau tahu itu akan
lebih menarik. Kau ingat dulu Theo dan Tom terkunci digudang? Theo mengangap
bahwa Tom pembunuh bayaran karena menonton film seperti itu. Mereka
kejar-kejaran semalaman? Hahaha, lucu sekali!” Draco tertawa, namun Hermione
melotot garang.
“Tidak lucu ya? Baiklah, kurasa kita akan menginap disini,
bagaimana?” tanya Draco.
“Baiklah,”
“Aku akan membawa pria besar ini kekamarnya,” ucap Draco
mengendong Theo.
“Selamat malam Theo,” ucap Hermione mencium pipi Theodore.
“Terimakasih,”
“Um, Hermione. Sudah lama ya kita tidak melakukan itu,”
canda Draco.
“Lupakan Draco, aku lelah. Kau tidur dengan Theo saja, aku
bersama dengan Scorpius,” ucap Hermione mengendong Scorpius menuju salah satu
kamar di apartemen Theo.
“Tapi Hermione?!”
-The end-
Komen please :) cerita ini hanya fiktif
Tidak ada komentar:
Posting Komentar